Mar 31, 2014

Label:

SKETSA ON THE SPOT Oleh Adji Setiawan

Blog
IS JOGJA. Manakala, permukanan kertas yang lembut mulai digores oleh ujung pena yang meruncing, akan ada perasaan estetis yang tersentuh seiring terciptanya setiap garis. Ketika itu pula lah dua kebenaran yang berlainan dipertemukan di atas permukaan kertas. Kasat mata dan tidak kasat mata. Makro dan mikro. Jagat gedhe dan jagat alit. Yakni realitas yang di respon dan unsur rasa yang merespon. Keduanya dihadirkan secara ekslusif dalam sebuah karya sketsa dari tangan tangan mereka... para pemburu sketsa.

Sketsa adalah visualisasi objek seefektif mungkin. Hanya dengan tarikan garis garis yang saling mendukung satu dengan yang lain, sketsa diharapkan mampu menghadirkan persepsi objek yang dimaksud kendati tidaklah tuntas. Bisa disimpulkan bahwa sketsa adalah cara atau tehnik menggambar yang paling sederhana.

Dunia arsitek, desain dan permesinan juga menggunakan sketsa untuk menyimpan data dan menyampaikan informasi "gambar kerja" secara cepat. Yang oleh golongan akademis kemudian sebut dengan istilah seni terapan. Sedangkan sketsa yang dimaknai dengan kepemilikan individu yang mutlak sebagai ekspresi personal untuk memenuhi kebutuhan artistik manusia disebut seni murni.
Jl. Kepodang Kota Lama Semarang Oleh Aryo Sunaryo

Dari segi kepentingan, seni lukis membagi sketsa kedalam dua bentuk. Yang pertama adalah sketsa sebagai sebuah kerangka untuk sebuah karya yang lebih kompleks sepeti lukisan, drawing, patung dan lain sebagainya. Dan yang kedua adalah sketsa sebagai karya final yang tidak perlu disempurnakan kemudian agar dapat dinikmati sebagai karya seni dua dimensi yang merdeka. Spesifkasi yang kedua inilah yang akan dibahas dalam tulisan ini. Dipersempit lagi adalah sketsa on the spot. Atau menggambar di depan objek secara langsung.

Sketsa? Kedengaranya sederhana. Setidaknya jika dibandingkan dengan drawing atau melukis dengan jangka prosesnya yang ideal lebih lama dan kompleks secara tehnis. Akan tetapi jenis seni rupa yang pertama kali lahir ini tetap memiliki kekuatanya sendiri dan sudah tidak bisa dibandingkan lagi nilai spiritnya. Justru dalam kesederhanaan itulah sketsa mampu menampilkan keindahanya secara lantang. Hitam di atas putih dan to the point sehingga  potensial penuh dengan manifestasi dari jiwa. Sebagaimna hebatnya lukisan, sketsa tak kalah memiliki banyak ruang untuk visi, persepsi dan subjektifitas.

Yang menjadi kekuatan adalah garis. Garis dalam sketsa tidak sekedar garis melainkan torehan yang mewakili emosi dari seorang sketcher. Sebagian kalangan menyebutnya dengan istilah “roh”. Dalam kaitanya, manusia sebagai mahluk yang tidak kaku seperti mesin memiliki dinamika rasa dalam mengungkapkan sebuah garis. Tergantung dari estetika (pengalaman indrawi) yang berbeda dari masing masing sketcher. Bertolak dari inilah karaker itu lahir. Kita bisa mengenali sorang sketcher dari karya sketsanya. Yaitu dari tarikan garis yang menjadi identitas seorang skether di samping objek kecenderungan dan gaya yang ia peragakan.

Sejatinya, sketsa berada pada posisi yang eksklusif walau terkadang dinilai masih belum mampu mewakili realitas yang sebenarnya. Ketidaksesuaian seperti liarnya garis, perspektif yang meleset atau anatomi yang kurang proporsional, menjadi poin yang mengganggu persepsi para apresiator. Kecuali jika sudah disikapi dengan pandangan bahwa sesuatu yang rapi, statis dan teratur adalah sesuatu yang membosankan, maka melalui spontanitas garis, sketsa memiliki bahasa yang dapat diolah untuk menampilkan inovasi yang mampu meluluhlantakan teori kemiripan (resemblance) fotografi yang nyaris sempurna. Nilai mausiawi inilah yang seringkali terabaikan di era digital saat ini. Di mana segala sesuatu telah dilipat, serba instan, cepat sehingga melewatkan setiap proses dan gejolak gejolak yang gaduh di wilayah rasa.

Dalam keseharianya, sampai saat ini sketsa masih menjadi katakanlah hal yang relatif sedikit diminati bahkan untuk dinikmati oleh masyarakat umum. Dengan kata lain sketsa tidaklah popular atau mainstream di kalangan masyarakat. Karena memang visualsasi menggunakan sketsa itu tidak semudah kamera digital yang hanya dengan klik satu tombolnya, kemudian selesai. Namun lebih dari itu, sketsa itu ibarat sebuah perjalanan panjang yang rahasia. 

Secara tehnis, sketsa jelas menjadi lebih diskriptif dari fotografi. Sebab, di balik kecakapan seorang sketcher, pastilah ada banyak hal yang telah ia tempuh-pelajari. Seorang sketcher harus belajar misalnya proporsi (bentuk) terlebih dahulu. Kemudian belajar perspektif, komposisi, anatomi dan gerak sebelum kemudian kembali ke artistik garis. Di sisi lain, pengetahuan mengenai peralatan juga berpengaruh. Pada akhirnya, eksplorasi juga dibutuhkan untuk mengenal peralatan yang paling sesuai.

Akan ada banyak permasalahan yang asik dalam setiap langkah pembelajaranya. Misalnya ketika belajar komposisi, seorang sketcher akan dituntut kreatifitasnya terutama dalam pemilihan titik spot. Objek apa saja yang perlu disederhanakan dan objek mana yang akan dijadikan fokus. Terkadang seorang sketcher juga ditawarkan haknya untuk mengubah tampilan realitas dalam sketsa. Misalnya ada sebuah pohon di sisi kiri yang dianggap membuat komposisi kurang harmonis, maka akan dipindahkanya (dalam sketsa) ke sisi kanan dan sebainya. Karena sketsa tidak lantas tunduk kepada objek yang mau tidak mau begitulah adanya. Itulah keunggulan daripada sketsa. 

Tematis, tingkat kesulitan tertinggi dalam sketsa adalah ketika berhadapan dengan sketsa suasana. Setidaknya sketsa suasana adalah yang paling kompleks. Sebab, yang digambar meliputi aktifitas objek yang bergerak di samping ada objek utama, objek pendukung dan background. Sampai di sini proses pembelajaran masuk ke tahap baru. Tantanganya sudah tidak lagi pada bentuk. Perspektif juga seharusnya sudah tidak lagi menjadi kendala. Melainkan sudah mulai mengamati gerak seperti orang yang sedang berjalan, sedang merokok dan sebagainya agar karya mampu menghadirkan suasana dan nuansa. Ke tingkat yang lebih sulit lagi ketika sampai pada hal detail seperti gender, usia, ragam pakaian dsb yang bisa mewakili zaman. Juga pemilihan objek objek seperti kendaraan bermotor, pedagang dan apapun objek yang bisa dijadikan identitas misalnya tiang listrik dan lampu kota.

Proses mengamati menjadi sangatlah penting. Dan juga kepekaan visual dan respon terhadap bentuk. Sketsa on the spot seakan mengajarkan kita untuk dekat dengan realitas beberapa tahap lebih dalam. Sebab sketsa menuntut turun untuk interaksi secara langsung dengan lingkungan bahkan masyarakatnya. Yang selanjutnya membentuk gaya pribadi membumi lalu berkarya sesuai dengan nafas kehidupan masyarakatnya. Di sisi lain estetika akan berkembang seiring seorang sketcher melatih dirinya dalam membuat karya sketsa. Setiap goresan adalah pengalaman menuju kematangan artistik. Setiap detik prosesnya adalah kontemplasi. Dan setiap objek adalah subjek yang memiliki sejarah dan masa depan. 

Karya Teguh Setiawan Pinang. 
Candi Ijo bermedia tinta di atas kertas A3
Selalu ada cerita dari kehadiran sketcher di tengah ruang ruang publik. Dari sekedar pelampiasan hasrat, sampai pemaknaan hidup. Dan apapun opini yang muncul, kehadiran sketcher dengan misinya di tengah masyarakat menjadi pemandangan yang lain dari biasa.
Di samping drawing, sketsa bisa jadi basis dalam melukis terutama gaya realis di kalangan pelukis. Bahkan pelukis Sudjojono terkadang mengukur kemampuan seorang pelukis dari sketsanya. Indikasi ini menunjukan bahwa ada korelasi antara sketsa dengan bidang yang lain. Setidaknya otak kanan dan kepekaan kita terasah melalui sketsa. Yang kemudian secara tidak langsung berdampak pada keseharian kita.

Setiap orang adalah seniman di mana setiap tempat adalah panggung. Keluar dari konteks permasalahan tehnis, sketsa adalah sebuah karya seni yang harus dipandang secara positif. Tidak ada salahnya kita belajar sketsa sekalipun bukanlah seorang seniman profesional. Karena akan ada banyak hal yang kita dapatkan dan begitu pula sebaliknya, akan ada banyak hal yang dapat kita berikan melalui sketsa sebagai sebuah karya seni.

Tulisan Oleh Adji Setiawan ( Penikmat Sketsa )

 

Anda suka dengan postingan ini silahkan klik tombol ini
Recent Post



Bagi Anda pengguna Android silahkan download aplikasi USk Pekalongan For Android disini
Dilarang mempergunakan gambar sketch kami tanpa se-izin yang membuat sketch

Pindai QR Code ini, untuk mendapatkan artikel di atas :)

Pekalongan Sketcher

Author & Editor

Urban Sketchers is a nonprofit organization dedicated to raising the artistic, storytelling and educational value of location drawing, promoting its practice and connecting people around the world who draw on location where they live and travel. Sketchers from the Pekalongan area share their drawings on this blog. Visit our main blog at urban sketchers dot org for more information.

0 comments:

Post a Comment

 

Social Media

  • Copyright © Pekalongan Sketcher™ is a registered trademark.
    Designed by Templateism. Hosted on Blogger Platform.